Membiasakan kebaikan sejak dini

Hari minggu biasanya kita selalu ada agenda keluar rumah, akan tetapi hari ini saya sengaja berada di rumah untuk mengerjakan
pekerjaan rumah yang sedikit terabaikan.
Sampai pada aktivitas mencuci baju, ketika akan memasukkan baju-baju kotor ke bak tiba-tiba syauqi dari belakang..”atu ja mi”katanya.
“bisa kah le?”.”bisa mi”katanya lagi…subhanallah,dia tampak senang sekali memasukkan baju kotor ke bak, lalu memenuhi bak dengan air dan menunggui mesin cuci berputar. Tentu saja saya membersamainya karena kuatir takut terjadi apa-apa di dekat mesin cuci.

Sore hari ketika abi menyiram halaman, diapun ikut “atu ja bi”..akhirnya syauqi yang menyirami halaman, tentu saja sekujur tubuhnya basah karena airnya dibuat mainan.

Subhanallah seharian pekerjaan rumah dibantu syauqi.

Pada artikel yang saya baca, bahwa anak-anak kita pasti hebat dan tidak ada yang malas. “Kehebatan” anak-anak tersebut bila ditinjau dari ilmu neurosains, bahwa di dalam otak anak yang baru lahir terdapat sekita 100 milyar sel otak (neuron), dan antar sel otak satu dengan sel otak lain dihubungankan dengan hubungan yang sangat istimewa yang bernama sinaps, di sini akan terjadi komunikasi baik secara listrik, kimia, maupun yang lainnya.Saat bayi baru lahir sinaps belum terbentuk atau otak masih polos, neuron yang masih polos terletak di bagian otak di permukaan bagian otak tersebut dalam bahasa kedokterannya diberi nama korteks (lapisan luar otak). Korteks ini pada awalnya berwarna putih karena masih belum terpapar oleh stimulus dari luar, dan apabila sudah dewasa maka korteks ini akan berupa menjadi warna keabuan (grey matter) akibat paparan yang didapat selama hidupnya. Pada saat lahir, bayi dan anak anak maka apapun paparan yang masuk ke dalam otak baik yang melalui panca indra (penglihatan, penciuman, pendengaran, perabaan dan perasa) maupun non panca indra akan mengubah struktur neuron dan sinaps di dalam korteks menjadi sesuatu yang sesuai dengan stimulus didapat.
Ilmu neurosains juga membuktikan bahwa memberi contoh secara langsung (rule models) jauh lebih membekas dalam memori anak dari pada menyuruh. Artinya sebelum mengharap anak kita melakukan sesuatu sesuai harapan kita maka kita sebagai orang tua harus terbiasa melakukan kebaikan secara terus menerus dan menampakan ke anak kita.

belajar mencuci

IMG20141019164713

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s