0

Pusar bayi bermasalah

Tali pusar bayi biasanya akan lepas di hari ke-7 kelahirannya, biasanya akan mengering seiring bertambahnya waktu. Akan tetapi ada beberapa bayi yang mengalami masalah dengan pusarnya, seperti si Azka. Di hari ke-7 kelahirannya, tali pusarnya sudah lepas namun masih tampak basah sehingga kami tidak berani membasahinya. Semakin hari kami kira semakin kering tetapi harapan itu sia-sia. Pusarnya semakin basah dan sering kali mengeluarkan nanah. Duh paniknya…
Coba konsultasi, katanya terjadi infeksi bahkan ada yang menyarankan dibawa ke dokter. Dan baca beberapa artikel ketika terjadi infeksi, harus dilakukan operasi. Wah operasi???semakin panik.
Akhirnya ada yang menyarankan diberikan albothyl.

albothil

Setelah saya baca komposisi dan kegunaannya, bismillah saya mencobanya.
Beberapa hari si Azka hanya saya lap-lap saja mandinya biar tidak ada air yang mengenai pusarnya. Lalu pusarnya ditetesi albothyl dengan 2 tetes saja. Kita lakukan setiap hari sampai usianya 1 bulan.

Alhamdulillah sekarang pusar Azka sudah kering dan tidak mengeluarkan nanah lagi…#senangsekali

0

Bedak beras untuk kulit bayi

Bedak beras atau dikenal dengan bedak dingin merupakan resep tradisional yang sering digunakan untuk kecantikan secara alami ternyata juga bermanfaat untuk kulit bayi.
Ini terjadi pada si kecil, Azka. Sejak lahir dia memakai bedak yang biasa ada dipasaran, c****n. Setelah beberapa hari pemakaian, di daerah lipatan kulitnya muncul bruntusan dengan warna merah disertai bintik-bintik putih. Resah karena si kecil menjadi rewel. Nenek memberi saran untuk mencoba membaluri badannya dengan bedak beras dan alhamdulillah berangsur-angsur membaik.
Berikut tips membuat bedak beras
Bahan-Bahan
1. Beras
2. Air
3. Kencur
4. Daun Mangkoan
5. Bunga Kenanga
6. Bunga Mawar
kencur* kencur

kenanga* bunga kenanga

mangkoan* daun mangkokan

Cara membuat :
1. Rendam beras dengan air secukupnya dalam waktu semalam ( bisa 3 malam) agar lebih lunak
2. Beras yang sudah lunak dihaluskan dengan cobek (alami) lalu diberi air
3. Saring beras yang sudah dihaluskan dengan kain ambil bagian yang halus, jika ada yang masih kasar dihaluskan lagi sampai habis
4. Campur dengan perasan kencur yang sudah ditumbuk
5. Bentuk bulat-bulat atau sesuai selera agar memudahkan pemakaian lalu jemur diterik matahari selama 2 jam
6. Tambahkan pengharum berupa irisan daun mangkoan, bunga kenanga dan bunga mawar
7. Jemur kembali sampai bedak benar-benar kering dan siap digunakan
8. Setelah kering, simpan ditempat rapat dan kering agar kesegaran tidak berubah dan tidak terkontaminasi jamur
Cara pemakaian:
Ambil secukupnya gumpalan bedak lalu tambahkan air, balurkan ke seluruh tubuh si kecil habis mandi, pasti si kecil merasa nyaman.

Selamat mencoba

0

Mengatasi bruntusan pada kulit bayi

Ada yang mengatakan bahwa kulit bayi itu lembut dan mulus, ternyata pernyataan tersebut tidak selalu benar.
Terkadang beberapa bayi mengalami masalah dengan kulit seperti bruntusan, jerawat atau masalah-masalah kulit yang lain sehingga menjadikan bayi rewel dan terganggu.
Kali ini kami membahas masalah bruntusan. Bruntusan biasanya muncul di sekitar lipatan kulit seperti leher, ketiak, selangkangan berwarna merah kadang disertai muncul bintil putih.
Penyebab Bruntusan :
1. Kulit bayi yang sensitif terhadap bedak
2. Udara yang panas sehingga bayi sering berkeringat
Untuk mengatasinya ternyata dapat menggunakan bahan-bahan disekitar kita tanpa harus ke dokter yakni menggunakan tepung tapioka.
Berikut cara menggunakannya :
1. Bersihkan kulit bayi yang bruntusan dengan air bersih
2. Usahakan kulit tidak memakai bedak
3. Taburkan tepung tapioka kering ke daerah yang mengalami bruntusan
Cara lain dengan menggunakan bedak beras yang bisa dibuat sendiri.

0

Membiasakan kebaikan sejak dini

Hari minggu biasanya kita selalu ada agenda keluar rumah, akan tetapi hari ini saya sengaja berada di rumah untuk mengerjakan
pekerjaan rumah yang sedikit terabaikan.
Sampai pada aktivitas mencuci baju, ketika akan memasukkan baju-baju kotor ke bak tiba-tiba syauqi dari belakang..”atu ja mi”katanya.
“bisa kah le?”.”bisa mi”katanya lagi…subhanallah,dia tampak senang sekali memasukkan baju kotor ke bak, lalu memenuhi bak dengan air dan menunggui mesin cuci berputar. Tentu saja saya membersamainya karena kuatir takut terjadi apa-apa di dekat mesin cuci.

Sore hari ketika abi menyiram halaman, diapun ikut “atu ja bi”..akhirnya syauqi yang menyirami halaman, tentu saja sekujur tubuhnya basah karena airnya dibuat mainan.

Subhanallah seharian pekerjaan rumah dibantu syauqi.

Pada artikel yang saya baca, bahwa anak-anak kita pasti hebat dan tidak ada yang malas. “Kehebatan” anak-anak tersebut bila ditinjau dari ilmu neurosains, bahwa di dalam otak anak yang baru lahir terdapat sekita 100 milyar sel otak (neuron), dan antar sel otak satu dengan sel otak lain dihubungankan dengan hubungan yang sangat istimewa yang bernama sinaps, di sini akan terjadi komunikasi baik secara listrik, kimia, maupun yang lainnya.Saat bayi baru lahir sinaps belum terbentuk atau otak masih polos, neuron yang masih polos terletak di bagian otak di permukaan bagian otak tersebut dalam bahasa kedokterannya diberi nama korteks (lapisan luar otak). Korteks ini pada awalnya berwarna putih karena masih belum terpapar oleh stimulus dari luar, dan apabila sudah dewasa maka korteks ini akan berupa menjadi warna keabuan (grey matter) akibat paparan yang didapat selama hidupnya. Pada saat lahir, bayi dan anak anak maka apapun paparan yang masuk ke dalam otak baik yang melalui panca indra (penglihatan, penciuman, pendengaran, perabaan dan perasa) maupun non panca indra akan mengubah struktur neuron dan sinaps di dalam korteks menjadi sesuatu yang sesuai dengan stimulus didapat.
Ilmu neurosains juga membuktikan bahwa memberi contoh secara langsung (rule models) jauh lebih membekas dalam memori anak dari pada menyuruh. Artinya sebelum mengharap anak kita melakukan sesuatu sesuai harapan kita maka kita sebagai orang tua harus terbiasa melakukan kebaikan secara terus menerus dan menampakan ke anak kita.

belajar mencuci

IMG20141019164713

0

Kedekatan Ayah dan Anak

ayah

Keseimbangan pengasuhan ibu dan ayah terhadap anak sangat berpengaruh terhadap perkembangannya. Secara psikologis anak akan mendapat dua peran sekaligus dari ibu maupun ayah, bukan hanya dari salah satu pihak saja. Tentunya manfaat dari kedekatan yang dibangun oleh orang tua dan anak sangat banyak sekali, diantaranya :
1. Kedekatan ayah dan anak membuka kesempatan bagi Ayah untuk memberikan pendidikan Agama sedini mungkin karena sesungguhnya secara fitrah anak dilahirkan dalam keadaan suci. seperti dicontohkan luqman didalam Al-Qur’an “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar” (QS. Luqman: 13).
2. Bisa menumbuhkan rasa percaya diri pada anak. Perhatian dan kasih sayang orang tua yang stabil bukan hanya dari salah satu pihak saja bisa menumbuhkan keyakinan bahwa dirinya berharga bagi orang lain.
3. Menumbuhkan kemampuan membina hubungan yang hangat. Bagaimana pola relasi yag dibagun orang tua dengan anak suatu saat pasti akan dijadikan contoh bagi anak bila sudah dewasa. Anak yang dibesarkan dengan penuh kekerasan maka anak pun juga melakukan hal tersebut, karena anak akan menganggap bahwa itu adalah sesuatu hal yang wajar boleh dilakukan.
4. Menumbuhkan semangat mengasihi sesama dan peduli pada orang lain. Kehangatan yang diciptakan orang tua mampu menumbuhkan rasa sensivitasan atau kepekaan yang tinggi terhadap lingkungan sekitarnya.
5. Melatih disiplin. Kedekatan yang terbangun dapat membuat orang tua memahami anaknya, sehingga orang tua lebih mudah memberikan arahan secara prposional tanpa harus memaksa anak dan bertindak keras.
6. Berpengaruh pada pertumbuhan intelektual dan psikologis. Bentuk kasih sayang yang terjalin, kelak mempengaruhi pertumbuhan fisik, intelektual dan kognitif serta perkembangan psikologis anak.
Nah, bagaimanakah ketika ayah sibuk bekerja diluar agar tetap bisa dekat dengan anak:
a. Mulailah kedekatan dengan anak sejak masih dalam kandungan sang ibu
b. Membantu merawat si kecil mulai dari memandikan,memasangkan pakaian maupun menyuapi makanan
c. Bermain bersama
d. Bercanda
e. Terlibat dalam kehidupan sosial sang anak sehingga tahu teman-temannya dan aktivitasnya
f. Menjalin komunikasi yang baik.
Demikianlah, semoga kita menjadi ibu dan ayah yang terbaik untuk anak kita

sumber : diambil dari segala sumber

0

Anak suka meniru

Selepas sholat magrib, secara tiba-tiba suamiku mengambil tisu untuk menyela keringat yang ada di sekitar mukanya karena memang udara sangat panas dan kebetulan didekatnya ada syauqi. Tanpa ada komando, diapun mengambil tisu yang sama dan mengusap mukanya persis yang dilakukan abinya.
Subhanallah,ternyata anak itu melihat dan mengikuti apa yang dilakukan oleh orang dewasa.
Jadi,agar anak-anak kita baik dan senantiasa berperilaku positif maka kitapun sebagai orang tua harus berperilaku positif.
Jangan langsung menyalahkan bahkan sampai memarahi anak jika mereka berperilaku negatif, kitalah yang harus instrospeksi diri apakah ada yang salah dari perilaku kita.

Berikut contoh video yang saya ambil di youtube tentang anak yang meniru orang tua

0

Penyejuk Jiwa

Meski banyak tingkah …
Meski banyak polah …
Meski banyak rengek…
Meski banyak keinginan yang harus segera dipenuhi..
Tapi kau buah cintaku, yang selalu menyejukkan jiwaku

Ketika memandangmu tersenyum, akupun ikut tersenyum
Ketika melihatmu tertawa, hatiku jadi bahagia

Buah cintaku, aku sangat menyayangimu
Jadilah senantiasa penyejuk mata dan jiwaku

0

Jangan katakan “nakal”

dakwatuna.com – “Anak saya ini nakal sekali”, kata seorang ibu.
“Kamu itu memang anak nakal”, kata seorang bapak.
Kalimat itu sering kita dengarkan dalam kehidupan sehari-hari. Sangat sering kita mendengar orang tua menyebut anaknya dengan istilah nakal, padahal kadang maksudnya sekadar mengingatkan anak agar tidak nakal. Namun apabila anak konsisten mendapatkan sebutan nakal, akan berpengaruh pada dirinya.
Predikat-predikat buruk memang cenderung memiliki dampak yang buruk pula. Nakal adalah predikat yang tak diinginkan oleh orang tua, bahkan oleh si anak sendiri. Namun, seringkali lingkungan telah memberikan predikat itu kepada si anak: kamu anak nakal, kamu anak kurang ajar, kamu anak susah diatur, dan sebagainya. Akibatnya, si anak merasa divonis.
Hindari Sebutan Nakal
Jika tuduhan nakal itu diberikan berulang-ulang oleh banyak orang, akan menjadikan anak yakin bahwa ia memang nakal. Bagaimanapun nakalnya si anak, pada mulanya tuduhan itu tidak menyenangkan bagi dirinya. Apalagi, jika sudah sampai menjadi bahan tertawaan, cemoohan, dan ejekan, akan sangat menggores relung hatinya yang paling dalam. Hatinya luka. Ia akan berusaha melawan tuduhan itu, namun justru dengan tindak kenakalannya yang lebih lanjut.
Hendaknya orang tua menyadari bahwa mengingatkan kesalahan anak tidak identik dengan memberikan predikat “nakal” kepadanya. Nakal itu —di telinga siapa pun yang masih waras— senantiasa berkesan negatif. Siapa tahu, anak menjadi nakal justru lantaran diberi predikat “nakal” oleh orang tua atau lingkungannya!
Mengingatkan kesalahan anak hendaknya dengan bijak dan kasih sayang. Bagaimanapun, mereka masih kecil. Sangat mungkin melaku¬kan kesalahan karena ketidaktahuan, atau karena sebab-sebab yang lain. Namun, apa pun bentuk kenakalan anak, biasanya ada penyebab yang bisa dilacak sebagai sebuah bahan evaluasi diri bagi para pendidik dan orang tua.
Banyak kisah tentang anak-anak kecil yang cacat atau meninggal di tangan orang tuanya sendiri. Cara-cara kekerasan yang dipakai untuk menanggulangi kenakalan anak seringkali tidak tepat. Watak anak sebenarnya lemah dan bahkan lembut. Mereka tak suka pada kekerasan. Jika disuruh memilih antara punya bapak yang galak atau yang penyabar lagi penyayang, tentu mereka akan memilih tipe kedua. Artinya, hendaknya orang tua berpikiran “tua” dalam mendidik anak-anaknya, agar tidak salah dalam mengambil langkah.
Sekali lagi, jangan cepat memberi predikat negatif. Hal itu akan membawa dampak psikologis yang traumatik bagi anak. Belum tentu anak yang sulit diatur itu nakal, bisa jadi justru itulah tanda-tanda kecerdasan dan kelebihannya dibandingkan anak lain. Hanya saja, orang tua biasanya tidak sabar dengan kondisi ini.
Ungkapan bijak Dorothy Law Nolte dalam syair Children Learn What They Live berikut bisa dijadikan sebagai bahan perenungan,
Bila anak sering dikritik, ia belajar mengumpat
Bila anak sering dikasari, ia belajar berkelahi
Bila anak sering diejek, ia belajar menjadi pemalu
Bila anak sering dipermalukan, ia belajar merasa bersalah
Bila anak sering dimaklumi, ia belajar menjadi sabar
Bila anak sering disemangati, ia belajar menghargai
Bila anak mendapatkan haknya, ia belajar bertindak adil
Bila anak merasa aman, ia belajar percaya
Bila anak mendapat pengakuan, ia belajar menyukai dirinya
Bila anak diterima dan diakrabi, ia akan menemukan cinta.
Cara Pandang Positif
Hendaknya orang tua selalu memiliki cara pandang positif terhadap anak. Jika anak sulit diatur, maka ia berpikir bahwa anaknya kelebihan energi potensial yang belum tersalurkan. Maka orang tua berusaha untuk memberikan saluran bagi energi potensial anaknya yang melimpah ruah itu, dengan berbagai kegiatan yang positif. Selama ini anaknya belum mendapatkan alternatif kegiatan yang memadai untuk menyalurkan berbagai potensinya.
Dengan cara pandang positif seperti itu, orang tua tidak akan emosional dalam menghadapi ketidaktertiban anak. Orang tua akan cenderung introspeksi dalam dirinya, bukan sekadar menyalahkan anak dan memberikan klaim negatif seperti kata nakal. Orang tua akan lebih lembut dalam berinteraksi dengan anak-anak, dan berusaha untuk mencari jalan keluar terbaik. Bukan dengan kemarahan, bukan dengan kata-kata kasar, bukan dengan pemberian predikat nakal.
“Kamu anak baik dan shalih. Tolong lebih mendengar pesan ibu ya Nak”, ungkapan ini sangat indah dan positif.
“Bapak bangga punya anak kamu. Banyak potensi kamu miliki. Jangan ulangi lagi perbuatanmu ini ya Nak”, ungkap seorang bapak ketika ketahuan anaknya bolos sekolah.
Semoga kita mampu menjadi orang tua yang bijak dalam membimbing, mendidik dan mengarahkan tumbuh kembang anak-anak kita. Hentikan sebutan nakal untuk mendidik anak-anak.

( oleh cahyadi takariawan)
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/09/23024/jangan-sebut-anak-anda-nakal/#

0

Teladan untuk buah hati

Anak ibarat kertas putih, orang tualah yang memberikan coretan hitam, merah, biru atau warna-warna yang lain.

Jika kita ingin anak kita baik, maka kita harus tanamkan kebaikan sejak dini.

“Tiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci ( fitrah-Islam).Ayah dan ibunyalah yang menjadikannya Yahudi,Nasrani dan Majusi” (HR.Bukhari)

Hal yang paling mudah kita lakukan adalah menjadi teladan kebaikan

Jika kita ingin anak kita rajin sholat, maka kitalah yang harus memberikan teladan untuk segera mengambil air wudhu dan mengerjakan sholat ketika adzan berkumandang.

Ini yang coba kami terapkan pada syauqi sejak usia 1 tahun, ketika adzan berkumandang kita hentikan segala aktivitas. “Ayo nak, kita matikan komputernya dan bersama umi berwudhu dan sholat”. Di awal-awal dia menangis dan merengek jadinya harus menggendong ke kamar mandi tetapi ketika sudah di kamar mandi tertawa karena senang melihat air. Itu kita rutinkan setiap hari…

Setelah berwudhu, kita lakukan sholat berjamaah dengan abinya jadi imam atau jika abi ke masjid maka dia saya ajak sholat sendiri. “ Ayo kita sholat yuk, Allahu akbar.gimana syauqi?” ketika saya mengatakan seperti itu, dia langsung tengkurap di atas sajadah.

Ya,jangan heran ketika di tengah-tengah sholat kadang dia menangis minta gendong ya kita harus menggendongnya atau kadang menaiki punggung. Karena bercermin pada Rasulullah yang diceritakan oleh Abu Hurairah “ Ketika kami melaksanakan sholat Isya bersama Rasulullah yang bertindak sebagai iman tiba-tiba ketika beliau bersujud sang cucu Hasan dan Husein meloncat dan menaiki punggung Nabi. Ketika Rasulullah mengangkat kepalanya,beliau menurunkan kedua cucunya dengan penuh kasih sayang. Dan ketika nabi sujud kembali, Hasan dan Husein kembali menaiki punggungnya.”
(HR.Al Hakim dalam adhim,2009:110)

Oke bunda, ayo kita menjadi teladan untuk buah hati kita dari hal yang terkecil dan mulai saat ini…